Jumat, 14 Agustus 2015

poetry


1. Kejahilan Indonesia ku

Andai saja ilmu bagaikan “ Emas “ tentu banyak orang yang berminat untuk mendapatkan nya, dengan begittu mereka terus berupaya belajar. Sehingga keberhasilan menemaninya , berusaha untuk menyimak seksama, hingga  suatu pengetahuan hidup menyala,  seperti hal nya api berkobar memunguti segala yang berdekatan dengan nya, Beribu-ribu pertanyaan pun lenyap tertelan oleh jawaban, Hingga lidah ini  seketika itu mencibir
“ Wahh,,, Betapa hebatnya generasi Indonesia nan jaya “
Namun,, Apa yang telah kita temukan di zaman ini
Materi dicampakkan
Guru diabaikan
Pendapat di lewatkan
Masukan disangka olokan
Ilmu pun di tolak pelan-pelan
Huffttt,, Terbuat dari apakan otak keras kita ini. Wahai pemuda-pemudi Indonesia


2. Untaian Isak ku
( Rindu kehadiran mu IBU )
Berderai lantunan gemuruh
Memuai embun memburuh
Nan mungil kicau menyeruh
Merunduk belai peluk menderuh
                                                Lantas perih membidik ku
                                                Lirik bulu mengguyuri ku
                                                Seketika rintihan memicu ku  
                                                Seketika rintikan  air mata menerkam ku                   
Oh,, Ibu ,,,,,,                                       
Disinilah aku merindukan mu ,,,
Apa daya jiwa ini tanpa mu ,,,
Seribu bahasa diam dalam benakmu ,,,
Inilah isak jeritan ku tentang  mu ,,,
Kan ku peluk erat kasih sayang mu ,,,
Walau hanya ku dapat bayangan mu ,,,



3. Kau dan Aku
( Kita berdua )
Kebisuan telah menyapa ku
Keheningan pun termangu dalam sapaan itu
Mentari menyonsong bersemburat di ufuknya
Kegelapan menghunus ketebalan sinarnya
Angin mesra pun bersandar diantara keduanya
                                                            Termenung dalam sunyi ,,,
                                                            Terkisah dalam mimpi ,,,
                                                            Terlukis oleh hati ,,,
                                                            Terjebak akan misteri ,,,
Kicauan indah menerpa penuh makna
Tiupan lirih membekas ke segalah arah
Rangakaian kata demi kata tak kuasa tuk di rasa
Luapan nurani pun tak sanggup tuk diraih
Lantas apalah isyarat atas semua ini, untuk dapat diyakini ,,, ???



4. Kesyukuran ku atas Ya Allah
(Derita si rabun senja )
Kalut malam menggulung keramaian bumi
Sinar rembulan menggulung sinar mentari
Rindang hujan mengguyuri ketentraman dini
Kerumunan bintang pun mengungguli keheningan malam hari
                        Kekurangan ini semoga menjadi kelebihan ku
                        Kelemahan ini semoga mengikat kekuatan ku
                        Kegelisaan ini semoga merangkul kenyamanan ku
                        Kesedihan ini pun semoga menggandeng kebahagiaan ku
Tak semudah membalik telapak tangan
Tak seringan mencoret-coret diatas lembaran
Tak segampang menerima suatu kekurangan
Dan tak serupa pula mensyukuri sebuah kenikmatan
                        Kerisauan ini sudah menjadi makanan harian ku
                        Kekacauan ini sudah menjadi bahan taruhan ku
                        Tak peduli lirihan angin menertawakan ku
                        Tak pedui bisikan pahit emnggores hati ku
                        Karena satu yang dapat menggigihkan tekad ku
YAITU ,,,
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya
Begitu pula skenario Allah tak lepas dari hikmah Nya



5. About Friend
Kawan
Kau idola pijaran kalbu ini
Kau wadah tererah rintikan hati
Kau pula hamparan luas nan suci
Risaulah tekad tanpa mu
Kokoh kah jiwa tanpa bayang  mu
Besi kah raga tiada tawa canda mu
 Kawan
Pertolongan mu bagai bidadari
Pemberian mu nan ibu peri
Keikhlasan mu bak mentari
Keistemewaan mu pun laksana nuansa matahari
Kawan
Sesungguhnya apa yang telah terjadi ,,, ???
Ntah mengapa jarak begitu menyakiti ,,,
Kisah- kisah mu selalu terurai ,,,
Tawa canda mu selalu terbuai ,,,
Hingga hasrat selalu ingn bersama mu ,,,
Wahai sahabat ku
Sungguh disini aku sangat merindukan mu ,,,
 


“ Created  by: Nurul Masitha “

Kata-kata Bijak


1.   Tak semudah membalik telapak tangan untuk pemulihan hati yang kosong,namun apalah arti nya kehidupan jika di dalamnya terus merasakan kekosongan hati,sedang ia selalu berada dekat dengan kita dan berada dalam lindungannya pula mentari selalu

2.   menyortkan kehangatan nya kepada sang bumi, begitu dengan rembulan tak kalah kegigihannya untuk menerangi krgelapan di tengah kesunyian malam hari,,,dan q pun tak luput untuk selalu memancarkan gelora senyuman ini walau kabut kesedihan yang tebali terus menyelimuti diri ,,,this a life,,full of choise,,be patient and take action,,,

3.    kenistaan terkecil dimana seseorang tidak dapat menyadari yaitu ketika ia telah  merasakan kegagalan serta kehancuran  ,,tetapi ia berniat dan berani mengulangi untuk yang kesekian kali

4.   kebodohan terbesar adalah ketika diri ini terjebak dalam lubang yang sama ,namun semua akan trasa  sirna saat lubang itu mengajaari kita apa arti kebodohan yang telah kita alami,,,,

5.   tekat bulat tanpa diimbangi keuletan dalam menjalankan nya yseperti halnya berlindung dibawah naungan pohon yang rindang akan dahanna nya

6.   kesadaran merupakan hal ampuh untuk  melangkah menuju harapan hidup yang akan kita gapai,meski menyisahkan jutaan luka dan ribuan penyesalan pada lubuk hati ini

7.   hidup tanpa tujuan seperti bekerja tanpa ilmu ,,dunia tanpa akhirat bagai surga tanpa neraha namun semua kan berada dalam satu kedudukan jikalau perubahan mengikat pada setiap nyawa

8.   mensyukuri ni’mat yang hanya di ungkapkan dengan perasaan tidak dengan tindakan sama hal nya dengan kaum munafiq yang berkata ia untuk meyakini keadaan, sedang sangat enggan berbuat dalam hal kebenaran
9.   kesulitan terbesar seseorang ketika titik k’percayaan diri hilang di telan kegelapan hati, dan hanya satu yang dapat membangkitkan itu kembali ya.ni tenangkan hati untuk siap menerima rintanngan yang lebih mernguji diri

10. seberapa lama dan  jauh anda untuk mengulang dan berlatih  sesuatu sebesar itu pun potensi  yang melekat pada diri anda

11. bertahan bukan berarti menerima segala yang telah terjadi tetapi memajukakn kualitas diri menjadi yang lebih berarti

12. mundur bukan brarti menyerah tertandingi suatu beban namun menyesuaikan kondisi diri degan keadaan yang ada dan pemaksaan sesuatu tidak lah membuahkan hasiil yang maksimal dan akan kandas dengan berjalan nya waktu

13. Goncangan kecil tak membuat niat ini bersemi kembali namun rintangan besar lah yang mendorong seseorang menuju kepada bola penyesalan sehigga niat itu bermekaran untuk menyongsong sebuah keterlambatan

14. Awal dari sebuah perubahan sungguh sulit untuk meniti jalan kemajuan,sealu terbendung dalam sebuah keterpurukan,selalu menjerit tertendang tujuan,bahkan selalu terjebak akan tipu daya kehidupan dan hanya satu ramuan yang dapat memulihkan keadaan, ya’ni merayap membungkus suatu kegelisaan,menembus suatu gesekan,hingga perubahan itu tidak sukar lagi untuk didapatkan

15. Kehebatan seseorang dalam bertindak menandakan kebijaksanaannya dalam memutuskan sebuah perkara sehingga dalam keadaan apa pun, ia akan selalu berada dalam martabat kehormatan nya, bahkan tiada satu pun yang menyepelehkan nya

16. Harapan yang besar tanpa diimbangi dengan kegigihan yang tinggi hanya akan menumbuhkan kesombongan hati yang berujung dalam kesedihan,namun harapan yang besar dengan tekat yang ulet dapat menumbuhkan benih kesuksesan yang bertunas dalm akar kesuksesan ketidakpuasan

17. Tekat kuat tidak hanya membutuhkan keuletan yang ampuh demikan harus diimbangi pula ikatan rabbani yang terikat kuat dalm hati nurani

18. Kebahagiaan sesungguhnya  hanya dapat terasa jika diselimuti dengan benih-benih kesyukuran akan berlimpah ni’mat-Nya{surga},tidak dengan keduniawian yang akan menjerumuskan dalam biji kebahagiaan semu atau sesaat dan berujung pada penyesalan{neraka}

19. Tergelincirnya lidah sebuah momentum untuk menerima resiko hal baik atau pun sebaliknya


20. Mengulangi kesalahan yang sama ,menunjukkan kesiapan akan tertundanya kesuksesan yang mendekat,dan hanya akan mengulur waktu yang begitu berharga
 Ketika Takdir Berbicara
             Langit biru menguap bersemburatan mengabu-abu, dedaunan rindang membasahi bumi, desisan angin          pun berhembusan kencang menggetarkan alam, begitu pula desiran pasir, bersemburatan menggulung daratan, rintikan hujan berkerumunan menindasi tanaman , guncangan ombak tak mau kalah berhamburan menghiasi lautan. Begitu menakjubbkan tatanan yang telah dinobatkan sang pencipta semesta ini, dan gemilang sinar pelangi pun menyaksikan kisah cinta yang hendak ku jalani bersama dengan suami ku mas Aziz

           Tak ku sangka ternyata diri ku telah menemukan bongkaran tulang rusuk ku yang sesungguhnya, sudah lama rasanya penantian panjang ini menunggu, hingga akhirnya pujaan ku telah berada di depan mata ku, laksana induk yang bertemu dengan anaknya setelah sekian lama menghilang. Terimakasih tuhan, Kau telah mempertemukan ku dengan nya. Semoga, mas Aziz dan anaknya Dinda dapat menerima ku sebagai istri dan ibunya.

            Hati ini merasakan kebahagiaan dan ketentraman yang abadi, bak menelusuri kebun-kebun surga yang sangat indah, saat isyarat itu menandakan kehalalan ku menjadi pendamping mas Aziz. Namun kemesraan dan keharmonisan ku ini, akan menjadikan kebahagiaan untuk Dinda pula atau malah sebaliknya ,,??

Dinda   : “ Ayah kapan bunda menjenguk ku kembali ,,?? ”
Ayah   : “ Tenang Dinda, bunda akan kesini kembali untuk menjenguk mu nak “

           Haruskan hati ini selalu menjerit dalam kebisuan ,,??? dan selalu menemani disetiap langkah ini ,,?? Ketika terdengar pada daun telinga ku dengan sebutan “Bunda”. Beginikah duri kehidupan yang selalu mengelabui perjalanan cinta ku yang baru itu ,,?? Jikalau sesak ini menambah kekuatan akan keimanan ku terhadap Mu, maka perkuatkan keteguhan dan kesabaran ku demi mencapai keridhoan Mu ya Rabb ,,

Dinda    : “ Ayah aku ingin bertemu bunda,aku sangat merindukannya “
 Ayah    : “ Baik sayang ayah akan mengantarkan dinda kepada bunda ,, diesok hari “
 Dinda   : “ Tidak mau ayah, saat ini juga ayah harus mengantarkan ku kerumah bunda “
 Ayah    : “ Mengapa harus detik ini juga nak ,,?? sudah terlalu larut malam ,, besok saja, ayah berjanji akan mengantarkan Dinda kepada bunda “
 Dinda   :  “Tapi aku ingin bertemu dengan bunda malam ini juga ayah “
 Ayah    : “ Menurutlah dengan perkataan ayah nak “
 Dinda   : “ Permintaan begini saja ayah tidak mau ,, hiks.hiks,hiks (menangis) “
 Ayah    : “ Baik lah nak, ayah akan antarkan mu “
Ya Allah kuatkan nurani ini, meskipun inilah kenyataan sesungguhnya yang harus aku terima, apa boleh buat butiran air ini selalu mengalir deras membasahi raut wajah ku. Meski, Dinda bukan lah darah daging ku sendiri. Namun, dengan menganggap keberadaan ku disini saja sudah dari cukup dan senang, apalagi jikalau menganggap ku sebagai ibu kandungnya, meski entah kapan panggilan “Ibu” terdengar ditelinga ku. Sedih rasanya jika Dinda selalu menanyakan akan mbak Hamidah tarang-terangan dihadapan ku

Dinda  : “ Ayah aku menginginkan masakan bunda seperti biasanya, tidak terlalu hambar seperti ini ”
Ayah   : “ Dinda kamu tidak boleh berkata seperti itu, menurut ayah masakan tante sudah  cukup berasa ”
Dinda  : “ Tidak, aku hanya menginginkan masakan bunda ”
Ibu       : “ Maafkan tante nak, yang belum bisa memenuhi dan mengerti segala apa yang dinda
inginkan ”
Dinda  : “ Ya sudalah tanta, tak usah dibahas terlalu lama ”
Ayah   : “ Dinda, usai makan ayah ingin membicarakan suatu hal kepada Dinda, tunggu ayah di      dalam kamar setelah ini ”
Dinda  : “ Baik ayah ”

        Kepedihan hati ini semakin mendalam, akan kah keberadaan ku ini hanya menjadikan kerusuhan bagi keluarga ini ,,?? seolah-olah bumi berhenti berputar sejenak, dan jantung berhenti berdetak sementara, keperihan itu selalu datang dan tak kunjung hilang. Jiwa ini rapuh tak berdaya, raga pun melayang tak berarah, setelah mendengar cetusan anak ku itu. Akankah dikemudian hari dinda dapat menerima ku apa adanya ,,??

At The Room
Ayah   : “ Dinda mengapa bersikap seperti itu didepan tante nak ,,?? bagaimana pun juga tante  sudah menjadi bagian dari keluarga baru kita, sementara bunda mu, biarlah ia menjalani kehidupan bersama pendamping baru nya saat ini, begitu pula dengan keluarga kita, Dinda harus dapat menganggap tante Sa’adah  sebagaimana bunda dinda sendiri “
Dinda  : “ Terserah ayah, aku masih tidak bisa menerima akan keberadaan nya untuk saat ini, aku masih mengharapkan kehadiran bunda disisi ku, aku rindu dengan belaian, pelukan, kasihsayang, perhatian yang selalu bunda berikan untuk ku, karena yang selalu ada untuk ku hanya bunda seorang, tidak akan ada orang yang dapat menggantikan posisi bunda di mataku (hiks,hiks,,hiks,,) aku rindu bunda “
Ayah   : “ Dinda Sayang ,, ayah tau akan hal itu, namun hargailah orang yang telah menganggap Dinda sebagai darah daging mu sendiri, tante Sa’adah selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Dinda, di saat Dinda meminta antarkan ayah untuk pergi kerumah bunda di malam hari, tante Sa’adah lah yang memaksa ayah untuk mengantarkan mu, disaat Dinda tidak menyukai masakan yang tante buat, pada saat itu juga ia membelikan makanan untuk Dinda walau pada saat itu hujan deras, bunda rela hanya demi kamu nak. Bahkan,disaat Dinda kedinginan pada malam hari, selimut tante Sa’adah lah yang memberi kehangatan untuk  mu. Namun, pernah kah Dinda merasakan sakit yang selalu tante Sa’adah  rasakan akan kelakuan dinda,,,?? “
Dinda  : “ Aku tidak peduli ,, biarkan saja, yang aku inginkan saat ini hanya keberadaan bunda  di sisi ku ,, Mengapa ayah harus berpisah dengan bunda seperti ini, mengapa hal ini dapat terjadi, semua salah ayah, hingga aku merasakan ketidak nyamanan akan kehidupan ku, aku iri dengan teman-teman ku yang lainnya “
Ayah   : “ Hussttt,, dinda tidak boleh berbicara seperti itu, Inilah namanya lika-liku sebuah kehidupan, mungkin waktu ayah dapat bersama bunda hanya sampai disini saja nak, semua telah diatur oleh Allah , dan mungkin ini yang terbaik untuk Dinda dan ayah, percayalah nak “
Degh,Degh,Degh,(Test,test,test)

seketika aliran darah ini menghunus tubuh ku secara menyeluruh, begitu pun denyut nadi ini tersumbat akan pernyataan dan perkataan yang keluar dari mulut Dinda, setelah aku mendengarkan pembicaraan mereka itu. Entah apa yang membuatnya bersikap seperti itu kepada ku ,, apakah seperti ini resiko yang selalu menimpa orang seperti aku ,,?? Tuhan beginikah lantunan melodi kehidupan ku ,, ?? tak kuasa hati ini menerima keadaan sedemikian rupa. Lantas apa yang harus aku lakukan demi mendapatan setitik perhatian dan belas kasih dari anak ku itu ,,?? Namun,  aku harus selalu tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarga ini .

Aziz       : “ Sa’adah, Sa’adah. Sa’adah “
Sa’adah : “ Iy mas ,, aku disini “
Aziz       : “ Jangan kau tetes kan air mata mu Sa’adah, tolong maafkan segala perilaku Dinda “
Sa’adah : “ Tidak apa-apa mas aku hanya bisa memaklumi, andai aku berada di posisi Dinda “ sekarang, tidak menutup kemunginan, aku akan bersikap begitu kepada ibu baru ku itu, dan mungkin saja Dinda selalu teringat akan mbak Hamidah, aku faham akan hal itu mas .
Aziz       : “ Sekalilagi maafkan anak ku Sa’adah,  kamu sudah terlalu sabar untuk menghadapi segala perilaku Dinda kepada mu, trimakasih istri ku, aku sayang kamu “
Sa’adah : “ Iy mas sama-sama, aku juga sayang kamu mas ( saling berpelukan ) “
Aziz       : “ Huufftt .. andai saja aku memiliki harta yang lebih, akan ku rebut kembali istri ku yang dulu “
Sa’adah : “ jika memang itu yang mas ingin kan, aku rela di madu mas “
Aziz       : “ Husstt ,, jaga omongan mu itu, mengapa kau memberikan peluang yang pada akhirnya hanya membuat luka dihati mu, aku hanya sekedar berangan-angan saja, dan itu pun tak mungkin bisa terjadi “


              Brughh ,, seakan dunia ini mendera ku, bahkan semakin memojokkan dan menghimpit ku, namun rasa perih yang selalu hadir mengajari ku akan arti kesabaran yang haqiqi, dan andai kau tahu mas, sesungguhnya perkataan mu itu membuat hati ini terbelah berkeping-keping,  sungguh tega kau katatakan itu kepada ku, Tuhan kuatkan lah batin ini

Aziz       : “ Sa’adah,  sudahlah tak perlu kau fikirkan tentang omongan ku itu, yang lalu biarlah berlalu, banyak hal yang lebih dan dapat kita karungi bersama demi masa depan Dinda yang cerah “
Sa’adah : “ Baik mas, maafkan aku “
Aziz       : “ Hamidah tolong buatkan aku kopi susu seperti biasanya “
Sa’adah : “ Hamidah ,,, ?? “
Aziz       : “ Oppss .. maksud ku “Sa’adah” maafkan aku , aku tidak bermaksud untuk memanggil mu dengan sebutan Hamidah, maafkan aku Sa’adah ku mohon .. (Sambil memegang erat tangan Sa’adah ) “
Sa’adah : “ emhh ,, ee ,i, iya mas aku faham, tak perlu meminta maaf begitu kepada ku mas, aku tidak apa-apa (menggerutu dalam hati dan berkata: Tuhan kuatkan lah nurani ku, saat masa lalu dan kenangan mas Aziz bersama mbk Hamidah terungkapkan kembali, aku yakin Kau tidak akan menguji hamba mu di luar batas kesanggupan nya, aku yakin aku bisa kuat) ”
2 Tahun Kemudian ,,
Dinda    : ” Tante ,, Dinda minta izin ingin mengerjakan tugas di rumah temen, Dinda mendapatkan tugas berkelompok “
Sa’adah : “ Baik, Dinda hati-hati ya nak di jalan “
Dinda    :  “ ok, tante “
Alhamdulillah sedikit demi sedikit akhirnya Dinda dapat menerima ku disini, anugrah terindah yang kini ku rasakan dapat melihat senyuman Dinda dan mas Aziz, meskipun sampai sekarang Dinda belum juga memanggil ku dengan sebutan ibu .
Sa’adah  : “ Mas, hari ini hari minggu, aku ingin membelikan Dinda kue bolu di pasar, seperti
biasanya yang di lakukan mbk Hamidah untuk Dinda “
Aziz       : “ Tunggu 10 menit lagi, biar aku yang akan mengantarkan mu Sa’adah “
Sa’adah :  “ Tidak usah mas, aku saja sendirian, tidak masalah, tak usah terlalu menghawatirkan ku “
Aziz       : “ Ya sudahlah, hati-hati kalau begitu, namun benarkah kau akan beranjak ke pasar sendirian ,,?? sudah aku saja yang mengantarkan mu “
Sa’adah :sudah lah mas, percaya pada ku, aku akan baik-baik saja, Insya Allah, Asslamu’alaikum mas (sambil mencium tangan mas Aziz)
Aziz       : “ E,e,e iy wa’alaikumsalam, mengapa tiba-tiba hati ku berkata lain, tidak seperti biasanya, aku takut akan terjadi sesuatu dengan istri ku, Ya Allah aku mohon lindungilah ia dari marabahaya dan semoga istri ku baik-baik saja -amin- “
Dinda    : “ Ada apa dengan ayah ,, ?? seperti sedang memikirkan sesuatu ,,?? Ayah antarkan aku ke pasar  aku ingin membeli kue bolu “
Ayah      : “ Ayah baik-baik saja Dinda , tante sudah membelikan mu Dinda “
Dinda    : “ Membelikan untuk ku,,?? Sejak kapan tante pergi ke pasar ayah,,?? Angka jarum jam telah menunjukkan pukul 01.00 mengapa tante tak kunjung datang “
Ayah      : “ Sekitar 3 jam yang lalu, ya mungkin saja ,, tante ada kepentingan lain nya “
(Kring,kring telfon bordering) 
Ayah      :  “ Sini nak biar ayah saja yamg mengangkat telfon nya “
Dinda     : “ Baik ayah “
Dr          : ” Hallo assalamu’alaikum, dengan bapak aziz disana ,,??
Ayah      : “ Benar dengan siapakah ini ,,?? “
Dr          : “ Kami dari pihak Rs.Ibnu Sina, dan apakah anda suami dari ibu Ruzhkiyah Nur Sa‘adah ,, ?? “
Ayah      : “ Iy benar bu, ada apa dengan istri saya ,,?? “
Dr          : “ Maaf,,  terdapat sedikit musibah yang menimpa istri anda, dan ia mengalami luka yang membutuhkan penanganan serius,dikarenakan benturan yang sedikit parah mengenai kepala nya “
Ayah      : “ Astagfirullah hal’adzim, ternyata benar firasat ku ( menggerutu dalam hati ) “
baik dok saya akan segera menemui istri saya
Dinda    : “ Ada apa ayah dengan tante .. ?? “
Ayah      :  “ Tante mengalami kecelakaan nak, tapi Dinda tenang saja tak usah khawatir, Insya Allah tante baik-baik saja, dan Dinda bersiap-siap saja sekarang “
Dinda    : “ Baik ayah ,, “ 
Brugh,, kotak merah siapa ini terjatuh ,, ?? dan untuk siapa kotakan ini tertuju ,, ??
( On The Way, dan Dinda pun segera membaca surat itu yang berada dalam kotak merah .dikarenakan ia sangat penasaran)
                                                                                                                     

                                                                                                                       Teruntuk anak ku: 
                                                                                                                    Dinda maheratul jannah
Assalamualaikum Wr.Wb
Dinda anak ku,,,
Disetiap tangis mu, terhampar goresan luka di hati ibu
Di setiap keluh mu, terbendung kegelisaan akan perkataan mu itu
Di setiap diam mu, tersimpan kekhawatiran yang mendalam pada benak ibu
Dan hanya di setiap tawamu. Kalbu ini dapat sedikit terobati, meski membutukhkan waktu yang lama untuk menunggu mu memanggil ku dengan sebutan “IBU”
Tidak pantaskah diri ini menyelimuti mu dengan kebahagiaan ,,??
Tidak layakkah jiwa ini menganggap mu akan darah kandungan ku ,,??
Bahkan begitu hina kah diri ini, menjadi pendamping hidup ayah mu ,,??
 Wahai anakku ,,
             2 tahun kelam ibu telah bersama ayah mu dan mengemban amanah suci, untuk menjaga mu dan menggantikan posisi ibu kandung mu. Suka,duka,canda,tawa kita naungi bersama. Melodi kehidupan kita rangkai menjadi suatu keharmonisan, laksana bunga indah bermekaran.
Tak mengapa jikalau untuk memanggil ku ibu saja enggan bagi mu dan sungguh sulit, namun dengan kau menganngap keberadaan ku sebagai bagian dari keluarga mu saja, ibu sudah merasa bahagia
              Maafkan ibu yang belum dapat  memberi, memenuhi, melayani dan menjaga Dinda dengan penuh kehangatan seperti apa yang telah bunda berikan terhadap Dinda, bahkan memasakkan makanan yang Dinda inginkan. Ini lah ibu yang apa adanya, bahkan mungkin yang tidak berharga nilainya untuk Dinda
              Dan andai Dinda mengetahui akan hati ibu, selalu terdetik dihati, disetiap hembusan nafas ibu, bahkan disetiap lamunan, renungan, dan doa ibu, hanya satu hal yang sangat ibu harapkan dari dinda ,” Kapankah Dinda dapat memanggil ku dengan sebutan IBU ,, ?? “
Semoga di kelak nanti Dinda menjadi sosok wanita yang sholiha dan ahli surga,, Amin,,
Wassalamualaikum Wr. Wb
                                                                                                                                   

                                                                                                          06/5/2014
                                                                                                                  Salam ibu mu                                                                                                                  tercinta
                                                                                                              
                                                                                                     {Ruzhkiyyah Nur Sa’adah}



Hah .. 6 Mei 4 bulan yang lalu ..?? mengapa aku baru nengetahui surat ini. Dinda pun termenung dalam kebisuan, ia hanya bisa memikirkan surat itu, dan hati nya pun semakin tak karuan
(Setelah tiba di Rs,Ibnu Sina)
Ayah   : “ Dok, bagaimana dengan keadaan istri saya ,, ?? “
Dr        : “ Alhamdulillah proses penjaitan kepala istri anda berjalan dengan baik dan tidak ada halangan “
Dinda  : “ Alhamdulillah, berarti ibu baik-baik aja kan ayah, Dinda ingin bertemu dengan ibu Sa’adah “
Dr        :  “ Tunggu dik, Namun takdir berkata lain, kami sudah berupaya semaksiml mungkin untuk keberlangsungan ibu adik, namun begini lah adanya “
(Setelah mendengar pernyataan itu, air mata pun berlinang dan bercucuran di wajah Dinda)
Test,test,test,,,

dan Dinda pun segera berlari memeluk erat jasad ibu nya seraya berkata
Dinda    : “ ibu maafkan Dinda,  ini semua salah Dinda, tidak seharusnya ibu pergi membelikan kue bolu itu hanya untuk Dinda. Andai saja ibu tidak membelikan kue itu, aku akan berdua bersama mu saat ini, bu maafkan atas keegoisan dan ketidakpekaan Dinda terhadap ibu, ibu aku menyesal akan semua perilaku ku terhadap mu, kembalilah untuk saat ini saja aku ingin memanggil mu dengan sebutan ibu ,, (ibu ,,, menagis histeris ) siapa yang akan menyiapkan makanan keseharian kun nanti bu ,,?? Dan siapakah yang akan menyelimuti ku saat kedinginan di malam hari, dan siapakan yang akan menemani ku di rumah ,, ?? ibu .,,, bangun lah,, aku mohon ,, hiks,hiks,hiks,, “
Ibuuuuu,,,,ia menjerit dengan keperihan hati yang tak tertahan kan ,,
( Sesak hati dinda tak tertahankan seakan ingin memutar waktu yang tlah berlalu, namun beginilah keadaan yang sebenarnya )
Ayah : “ Bersabarlah nak, mungkin inilah takdir  dan jalan yang terbaik untuk keluarga kita “ (Mencoba untuk menenangkan Dinda )
Dinda : “Ayah ,, aku ingin ibu Sa’adah kembali bersama kita. Dunia begitu jahat terhadap ku”
Ayah : “ Sabarlah nak ”

(Dinda dan ayah nya pun saling berpelukan dalam hati Aziz berkata : Hanya sampai sinikah perjalanan ku dengan sa’adah,?? Dan hendak bersama siapa lagi aku merajut kisah cinta  ini untuk yang kesekian kalinya. Dan dalam hati Dinda pun bergeming : ibu maafkan aku selama ini aku sudah cukup merepotkan ibu, dan tidak peka atas perhatian ibu yang slama ini ku sia-sia kan,, aku ingin memanggil mu ibu ..

( Selamat jalan ibu, semoga ibu disana mendapat ketenangan dan Syafaat nya dan semoga amal kebaikan ibu selama ini diterima disisi Tuhan Amin ya Rabbal’alamin )
Ibuuuuu .,,, menjerit dalam banak hatinya hiks,hiks,iks

          Beginikah yang dinamakan takdir sang maha kuasa ,, ?? Seperti inikah akhir dari kisah cinta mas Aziz dan mbk Sa’adah yang baru saja mereka ikat .. ?? Dan begitu perih kah perasaan Sa’adah saat kenangan mas Aziz bersama Hamidah teruraikan kembali secara terang-terangan, begitu dengan tawaran mas Aziz ketika hendak memadu Sa’adah ,,?? Apakah selalu begini derita ibu tiri yang selalu disia-siakan perhatian nya oleh sang anak ,, ?? Bahkan bagaimana kah peraaan Sa’adah saat sebutan “Ibu” tak kunjung datang memanggilnya, hingga akhir hayat nya ..?? Dan juga, bagaimana pula perasaan Dinda saat kenangan itu tak datang kembali, bahkan seseorang yang selalu ada untuknya menghilang selama-lamanya ..??