Ketika Takdir Berbicara
Langit biru menguap bersemburatan
mengabu-abu, dedaunan rindang membasahi bumi, desisan angin pun berhembusan kencang menggetarkan
alam, begitu pula desiran pasir, bersemburatan menggulung daratan, rintikan hujan
berkerumunan menindasi tanaman , guncangan ombak tak mau kalah berhamburan
menghiasi lautan. Begitu menakjubbkan tatanan yang telah dinobatkan sang
pencipta semesta ini, dan gemilang sinar pelangi pun menyaksikan kisah cinta
yang hendak ku jalani bersama dengan suami ku mas Aziz
Tak ku sangka ternyata diri ku
telah menemukan bongkaran tulang rusuk ku yang sesungguhnya, sudah lama rasanya
penantian panjang ini menunggu, hingga akhirnya pujaan ku telah berada di depan
mata ku, laksana induk yang bertemu dengan anaknya setelah sekian lama
menghilang. Terimakasih tuhan, Kau telah mempertemukan ku dengan nya. Semoga, mas
Aziz dan anaknya Dinda dapat menerima ku sebagai istri dan ibunya.
Hati ini merasakan kebahagiaan
dan ketentraman yang abadi, bak menelusuri kebun-kebun surga yang sangat indah,
saat isyarat itu menandakan kehalalan ku menjadi pendamping mas Aziz. Namun
kemesraan dan keharmonisan ku ini, akan menjadikan kebahagiaan untuk Dinda pula
atau malah sebaliknya ,,??
Dinda : “ Ayah kapan bunda menjenguk ku
kembali ,,?? ”
Ayah : “ Tenang Dinda, bunda akan
kesini kembali untuk menjenguk mu nak “
Haruskan hati ini selalu
menjerit dalam kebisuan ,,??? dan selalu menemani disetiap langkah ini ,,?? Ketika
terdengar pada daun telinga ku dengan sebutan “Bunda”. Beginikah duri kehidupan
yang selalu mengelabui perjalanan cinta ku yang baru itu ,,?? Jikalau sesak ini
menambah kekuatan akan keimanan ku terhadap Mu, maka perkuatkan keteguhan dan
kesabaran ku demi mencapai keridhoan Mu ya Rabb ,,
Dinda
: “ Ayah aku ingin bertemu bunda,aku sangat merindukannya “
Ayah : “ Baik sayang ayah akan mengantarkan dinda
kepada bunda ,, diesok hari “
Dinda
: “ Tidak mau ayah, saat ini juga
ayah harus mengantarkan ku kerumah bunda “
Ayah
: “ Mengapa harus detik ini juga
nak ,,?? sudah terlalu larut malam ,, besok saja, ayah berjanji akan
mengantarkan Dinda kepada bunda “
Dinda : “Tapi
aku ingin bertemu dengan bunda malam ini juga ayah “
Ayah
: “ Menurutlah dengan perkataan ayah nak “
Dinda : “ Permintaan begini saja ayah tidak mau ,, hiks.hiks,hiks
(menangis) “
Ayah : “ Baik lah nak, ayah akan antarkan mu “
Ya
Allah kuatkan nurani ini, meskipun inilah kenyataan sesungguhnya yang harus aku
terima, apa boleh buat butiran air ini selalu mengalir deras membasahi raut
wajah ku. Meski, Dinda bukan lah darah daging ku sendiri. Namun, dengan
menganggap keberadaan ku disini saja sudah dari cukup dan senang, apalagi
jikalau menganggap ku sebagai ibu kandungnya, meski entah kapan panggilan “Ibu”
terdengar ditelinga ku. Sedih rasanya jika Dinda selalu menanyakan akan mbak Hamidah
tarang-terangan dihadapan ku
Dinda : “ Ayah aku menginginkan masakan bunda
seperti biasanya, tidak terlalu hambar seperti ini ”
Ayah : “ Dinda kamu tidak boleh berkata
seperti itu, menurut ayah masakan tante sudah cukup berasa ”
Dinda : “ Tidak, aku hanya menginginkan
masakan bunda ”
Ibu : “ Maafkan tante nak, yang
belum bisa memenuhi dan mengerti segala apa yang dinda
inginkan ”
Dinda : “ Ya sudalah tanta, tak usah
dibahas terlalu lama ”
Ayah : “ Dinda, usai makan ayah ingin
membicarakan suatu hal kepada Dinda, tunggu ayah di dalam kamar setelah ini ”
Dinda : “ Baik ayah ”
Kepedihan hati ini semakin
mendalam, akan kah keberadaan ku ini hanya menjadikan kerusuhan bagi keluarga
ini ,,?? seolah-olah bumi berhenti berputar sejenak, dan jantung berhenti
berdetak sementara, keperihan itu selalu datang dan tak kunjung hilang. Jiwa
ini rapuh tak berdaya, raga pun melayang tak berarah, setelah mendengar cetusan
anak ku itu. Akankah dikemudian hari dinda dapat menerima ku apa adanya ,,??
At
The Room
Ayah : “ Dinda mengapa bersikap seperti
itu didepan tante nak ,,?? bagaimana pun juga tante sudah menjadi bagian dari keluarga baru kita, sementara
bunda mu, biarlah ia menjalani kehidupan bersama pendamping baru nya saat ini, begitu
pula dengan keluarga kita, Dinda harus dapat menganggap tante Sa’adah sebagaimana bunda dinda sendiri “
Dinda : “ Terserah ayah, aku masih tidak
bisa menerima akan keberadaan nya untuk saat ini, aku masih mengharapkan
kehadiran bunda disisi ku, aku rindu dengan belaian, pelukan, kasihsayang, perhatian
yang selalu bunda berikan untuk ku, karena yang selalu ada untuk ku hanya bunda
seorang, tidak akan ada orang yang dapat menggantikan posisi bunda di mataku (hiks,hiks,,hiks,,)
aku rindu bunda “
Ayah : “ Dinda Sayang ,, ayah tau akan
hal itu, namun hargailah orang yang telah menganggap Dinda sebagai darah daging
mu sendiri, tante Sa’adah selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Dinda,
di saat Dinda meminta antarkan ayah untuk pergi kerumah bunda di malam hari, tante
Sa’adah lah yang memaksa ayah untuk mengantarkan mu, disaat Dinda tidak menyukai
masakan yang tante buat, pada saat itu juga ia membelikan makanan untuk Dinda walau
pada saat itu hujan deras, bunda rela hanya demi kamu nak. Bahkan,disaat Dinda
kedinginan pada malam hari, selimut tante Sa’adah lah yang memberi kehangatan
untuk mu. Namun, pernah kah Dinda
merasakan sakit yang selalu tante Sa’adah rasakan akan kelakuan dinda,,,?? “
Dinda : “ Aku tidak peduli ,, biarkan
saja, yang aku inginkan saat ini hanya keberadaan bunda di sisi ku ,, Mengapa ayah harus berpisah dengan
bunda seperti ini, mengapa hal ini dapat terjadi, semua salah ayah, hingga aku
merasakan ketidak nyamanan akan kehidupan ku, aku iri dengan teman-teman ku
yang lainnya “
Ayah : “ Hussttt,, dinda tidak boleh
berbicara seperti itu, Inilah namanya lika-liku sebuah kehidupan, mungkin waktu
ayah dapat bersama bunda hanya sampai disini saja nak, semua telah diatur oleh
Allah , dan mungkin ini yang terbaik untuk Dinda dan ayah, percayalah nak “
Degh,Degh,Degh,(Test,test,test)
seketika aliran darah ini menghunus tubuh ku secara menyeluruh, begitu pun
denyut nadi ini tersumbat akan pernyataan dan perkataan yang keluar dari mulut
Dinda, setelah aku mendengarkan pembicaraan mereka itu. Entah apa yang
membuatnya bersikap seperti itu kepada ku ,, apakah seperti ini resiko yang
selalu menimpa orang seperti aku ,,?? Tuhan beginikah lantunan melodi kehidupan
ku ,, ?? tak kuasa hati ini menerima keadaan sedemikian rupa. Lantas apa yang
harus aku lakukan demi mendapatan setitik perhatian dan belas kasih dari anak
ku itu ,,?? Namun, aku harus selalu tetap
berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarga ini .
Aziz : “ Sa’adah, Sa’adah. Sa’adah “
Sa’adah : “ Iy mas ,, aku disini “
Aziz : “ Jangan kau tetes kan air
mata mu Sa’adah, tolong maafkan segala perilaku Dinda “
Sa’adah : “ Tidak apa-apa mas aku hanya
bisa memaklumi, andai aku berada di posisi Dinda “ sekarang, tidak menutup
kemunginan, aku akan bersikap begitu kepada ibu baru ku itu, dan mungkin saja
Dinda selalu teringat akan mbak Hamidah, aku faham akan hal itu mas .
Aziz : “ Sekalilagi maafkan anak ku
Sa’adah, kamu sudah terlalu sabar untuk
menghadapi segala perilaku Dinda kepada mu, trimakasih istri ku, aku sayang
kamu “
Sa’adah : “ Iy mas sama-sama, aku juga
sayang kamu mas ( saling berpelukan ) “
Aziz : “ Huufftt .. andai saja aku
memiliki harta yang lebih, akan ku rebut kembali istri ku yang dulu “
Sa’adah : “ jika memang itu yang mas ingin
kan, aku rela di madu mas “
Aziz : “ Husstt ,, jaga omongan mu
itu, mengapa kau memberikan peluang yang pada akhirnya hanya membuat luka
dihati mu, aku hanya sekedar berangan-angan saja, dan itu pun tak mungkin bisa
terjadi “
Brughh ,, seakan dunia ini
mendera ku, bahkan semakin memojokkan dan menghimpit ku, namun rasa perih yang
selalu hadir mengajari ku akan arti kesabaran yang haqiqi, dan andai kau tahu
mas, sesungguhnya perkataan mu itu membuat hati ini terbelah berkeping-keping, sungguh tega kau katatakan itu kepada ku, Tuhan
kuatkan lah batin ini
Aziz : “ Sa’adah, sudahlah tak perlu kau fikirkan tentang omongan
ku itu, yang lalu biarlah berlalu, banyak hal yang lebih dan dapat kita karungi
bersama demi masa depan Dinda yang cerah “
Sa’adah : “ Baik mas, maafkan aku “
Aziz : “ Hamidah tolong buatkan aku
kopi susu seperti biasanya “
Sa’adah : “ Hamidah ,,, ?? “
Aziz : “ Oppss .. maksud ku “Sa’adah”
maafkan aku , aku tidak bermaksud untuk memanggil mu dengan sebutan Hamidah, maafkan
aku Sa’adah ku mohon .. (Sambil memegang erat tangan Sa’adah ) “
Sa’adah : “ emhh ,, ee ,i, iya mas aku
faham, tak perlu meminta maaf begitu kepada ku mas, aku tidak apa-apa (menggerutu
dalam hati dan berkata: Tuhan kuatkan lah nurani ku, saat masa lalu dan
kenangan mas Aziz bersama mbk Hamidah terungkapkan kembali, aku yakin Kau tidak
akan menguji hamba mu di luar batas kesanggupan nya, aku yakin aku bisa kuat) ”
2 Tahun Kemudian ,,
Dinda : ” Tante ,, Dinda minta izin ingin
mengerjakan tugas di rumah temen, Dinda mendapatkan tugas berkelompok “
Sa’adah : “ Baik, Dinda hati-hati ya nak
di jalan “
Dinda : “ ok, tante “
Alhamdulillah sedikit
demi sedikit akhirnya Dinda dapat menerima ku disini, anugrah terindah yang
kini ku rasakan dapat melihat senyuman Dinda dan mas Aziz, meskipun sampai
sekarang Dinda belum juga memanggil ku dengan sebutan ibu .
Sa’adah
: “ Mas, hari ini hari minggu, aku ingin
membelikan Dinda kue bolu di pasar, seperti
biasanya yang di lakukan mbk Hamidah untuk Dinda “
Aziz : “ Tunggu 10 menit lagi, biar
aku yang akan mengantarkan mu Sa’adah “
Sa’adah : “ Tidak usah mas, aku saja
sendirian, tidak masalah, tak usah terlalu menghawatirkan ku “
Aziz : “ Ya sudahlah, hati-hati
kalau begitu, namun benarkah kau akan beranjak ke pasar sendirian ,,?? sudah
aku saja yang mengantarkan mu “
Sa’adah :sudah lah mas, percaya pada ku, aku akan baik-baik saja, Insya Allah, Asslamu’alaikum
mas (sambil mencium tangan mas Aziz)
Aziz : “ E,e,e iy wa’alaikumsalam, mengapa
tiba-tiba hati ku berkata lain, tidak seperti biasanya, aku takut akan terjadi
sesuatu dengan istri ku, Ya Allah aku mohon lindungilah ia dari marabahaya dan
semoga istri ku baik-baik saja -amin- “
Dinda : “ Ada apa dengan ayah ,, ?? seperti
sedang memikirkan sesuatu ,,?? Ayah antarkan aku ke pasar aku ingin membeli kue bolu “
Ayah : “ Ayah baik-baik saja Dinda ,
tante sudah membelikan mu Dinda “
Dinda : “ Membelikan untuk ku,,?? Sejak
kapan tante pergi ke pasar ayah,,?? Angka jarum jam telah menunjukkan pukul 01.00
mengapa tante tak kunjung datang “
Ayah : “ Sekitar 3 jam yang lalu, ya
mungkin saja ,, tante ada kepentingan lain nya “
(Kring,kring
telfon bordering)
Ayah : “ Sini nak biar ayah saja yamg mengangkat
telfon nya “
Dinda : “ Baik ayah “
Dr : ” Hallo assalamu’alaikum, dengan bapak aziz
disana ,,??
Ayah : “ Benar dengan siapakah ini
,,?? “
Dr : “ Kami dari pihak Rs.Ibnu
Sina, dan apakah anda suami dari ibu Ruzhkiyah Nur Sa‘adah ,, ?? “
Ayah : “ Iy benar bu, ada apa dengan
istri saya ,,?? “
Dr : “ Maaf,, terdapat sedikit musibah yang menimpa istri
anda, dan ia mengalami luka yang membutuhkan penanganan serius,dikarenakan
benturan yang sedikit parah mengenai kepala nya “
Ayah : “ Astagfirullah hal’adzim, ternyata
benar firasat ku ( menggerutu dalam hati ) “
baik dok saya akan segera menemui istri saya
Dinda : “ Ada apa ayah dengan tante ..
?? “
Ayah : “ Tante mengalami kecelakaan nak, tapi Dinda
tenang saja tak usah khawatir, Insya Allah tante baik-baik saja, dan Dinda
bersiap-siap saja sekarang “
Dinda : “ Baik ayah ,, “
Brugh,, kotak merah siapa ini terjatuh ,, ?? dan untuk siapa kotakan ini
tertuju ,, ??
( On The Way, dan Dinda
pun segera membaca surat itu yang berada dalam kotak merah .dikarenakan ia
sangat penasaran)
Teruntuk
anak ku:
Dinda
maheratul jannah
Assalamualaikum Wr.Wb
Dinda anak ku,,,
Disetiap tangis mu, terhampar goresan luka di hati ibu
Di setiap keluh mu, terbendung kegelisaan akan perkataan mu itu
Di setiap diam mu, tersimpan kekhawatiran yang mendalam pada benak ibu
Dan hanya di setiap tawamu. Kalbu ini dapat sedikit terobati, meski
membutukhkan waktu yang lama untuk menunggu mu memanggil ku dengan sebutan
“IBU”
Tidak pantaskah diri ini menyelimuti mu dengan kebahagiaan ,,??
Tidak layakkah jiwa ini menganggap mu akan darah kandungan ku ,,??
Bahkan begitu hina kah diri ini, menjadi pendamping hidup ayah mu ,,??
Wahai anakku ,,
2 tahun kelam ibu telah
bersama ayah mu dan mengemban amanah suci, untuk menjaga mu dan menggantikan
posisi ibu kandung mu. Suka,duka,canda,tawa kita naungi bersama. Melodi
kehidupan kita rangkai menjadi suatu keharmonisan, laksana bunga indah
bermekaran.
Tak mengapa jikalau untuk memanggil ku ibu saja enggan bagi mu dan sungguh
sulit, namun dengan kau menganngap keberadaan ku sebagai bagian dari keluarga
mu saja, ibu sudah merasa bahagia
Maafkan ibu yang belum
dapat memberi, memenuhi, melayani dan
menjaga Dinda dengan penuh kehangatan seperti apa yang telah bunda berikan
terhadap Dinda, bahkan memasakkan makanan yang Dinda inginkan. Ini lah ibu yang
apa adanya, bahkan mungkin yang tidak berharga nilainya untuk Dinda
Dan andai Dinda mengetahui
akan hati ibu, selalu terdetik dihati, disetiap hembusan nafas ibu, bahkan
disetiap lamunan, renungan, dan doa ibu, hanya satu hal yang sangat ibu
harapkan dari dinda ,” Kapankah Dinda dapat memanggil ku dengan sebutan IBU ,,
?? “
Semoga di kelak nanti Dinda menjadi sosok wanita yang sholiha dan ahli surga,, Amin,,
Wassalamualaikum Wr. Wb
06/5/2014
Salam ibu mu tercinta
{Ruzhkiyyah Nur Sa’adah}
Hah .. 6 Mei 4 bulan yang lalu ..?? mengapa aku baru nengetahui surat ini. Dinda
pun termenung dalam kebisuan, ia hanya bisa memikirkan surat itu, dan hati nya
pun semakin tak karuan
(Setelah
tiba di Rs,Ibnu Sina)
Ayah : “ Dok, bagaimana dengan keadaan
istri saya ,, ?? “
Dr : “ Alhamdulillah proses
penjaitan kepala istri anda berjalan dengan baik dan tidak ada halangan “
Dinda : “ Alhamdulillah, berarti ibu
baik-baik aja kan ayah, Dinda ingin bertemu dengan ibu Sa’adah “
Dr : “ Tunggu dik, Namun takdir berkata lain, kami
sudah berupaya semaksiml mungkin untuk keberlangsungan ibu adik, namun begini
lah adanya “
(Setelah
mendengar pernyataan itu, air mata pun berlinang dan bercucuran di wajah Dinda)
Test,test,test,,,
dan Dinda pun segera berlari memeluk erat jasad ibu nya seraya berkata
Dinda : “ ibu maafkan Dinda, ini semua salah Dinda, tidak seharusnya ibu pergi
membelikan kue bolu itu hanya untuk Dinda. Andai saja ibu tidak membelikan kue
itu, aku akan berdua bersama mu saat ini, bu maafkan atas keegoisan dan
ketidakpekaan Dinda terhadap ibu, ibu aku menyesal akan semua perilaku ku
terhadap mu, kembalilah untuk saat ini saja aku ingin memanggil mu dengan
sebutan ibu ,, (ibu ,,, menagis histeris ) siapa yang akan menyiapkan makanan keseharian
kun nanti bu ,,?? Dan siapakah yang akan menyelimuti ku saat kedinginan di
malam hari, dan siapakan yang akan menemani ku di rumah ,, ?? ibu .,,, bangun
lah,, aku mohon ,, hiks,hiks,hiks,, “
Ibuuuuu,,,,ia menjerit dengan keperihan hati yang tak tertahan kan ,,
( Sesak hati dinda tak tertahankan seakan ingin memutar waktu yang tlah berlalu,
namun beginilah keadaan yang sebenarnya )
Ayah : “ Bersabarlah nak, mungkin inilah takdir
dan jalan yang terbaik untuk keluarga kita “ (Mencoba untuk menenangkan
Dinda )
Dinda : “Ayah ,, aku ingin ibu Sa’adah kembali bersama kita. Dunia begitu jahat
terhadap ku”
Ayah : “ Sabarlah nak ”
(Dinda dan ayah nya pun saling berpelukan dalam hati Aziz berkata : Hanya
sampai sinikah perjalanan ku dengan sa’adah,?? Dan hendak bersama siapa lagi aku
merajut kisah cinta ini untuk yang
kesekian kalinya. Dan dalam hati Dinda pun bergeming : ibu maafkan aku selama
ini aku sudah cukup merepotkan ibu, dan tidak peka atas perhatian ibu yang
slama ini ku sia-sia kan,, aku ingin memanggil mu ibu ..
( Selamat jalan ibu, semoga ibu disana mendapat ketenangan dan Syafaat nya dan
semoga amal kebaikan ibu selama ini diterima disisi Tuhan Amin ya Rabbal’alamin
)
Ibuuuuu .,,, menjerit dalam banak hatinya hiks,hiks,iks
Beginikah yang dinamakan takdir sang maha
kuasa ,, ?? Seperti inikah akhir dari kisah cinta mas Aziz dan mbk Sa’adah yang
baru saja mereka ikat .. ?? Dan begitu perih kah perasaan Sa’adah saat kenangan
mas Aziz bersama Hamidah teruraikan kembali secara terang-terangan, begitu
dengan tawaran mas Aziz ketika hendak memadu Sa’adah ,,?? Apakah selalu begini
derita ibu tiri yang selalu disia-siakan perhatian nya oleh sang anak ,, ??
Bahkan bagaimana kah peraaan Sa’adah saat sebutan “Ibu” tak kunjung datang
memanggilnya, hingga akhir hayat nya ..?? Dan juga, bagaimana pula perasaan
Dinda saat kenangan itu tak datang kembali, bahkan seseorang yang selalu ada
untuknya menghilang selama-lamanya ..??